Dalam proses penyusunan karya ilmiah, salah satu bagian yang sering membuat mahasiswa berhenti cukup lama adalah menentukan rumusan masalah. Banyak mahasiswa sebenarnya sudah memiliki topik penelitian, menemukan fenomena yang menarik, bahkan sudah membaca sejumlah referensi, tetapi masih kesulitan mengubah gagasan tersebut menjadi pertanyaan penelitian yang jelas. Kondisi ini membuat rumusan masalah sering dianggap sebagai bagian yang sederhana secara bentuk, tetapi cukup kompleks dalam proses penyusunannya.
Rumusan masalah memiliki peran penting karena menjadi pengarah utama penelitian. Dari rumusan masalah, peneliti dapat menentukan tujuan penelitian, memilih metode yang sesuai, mengumpulkan data yang relevan, hingga menyusun pembahasan dan kesimpulan. Apabila rumusan masalah terlalu luas, penelitian berisiko kehilangan fokus. Sebaliknya, jika rumusan masalah terlalu sempit, data yang diperoleh mungkin tidak cukup untuk menghasilkan pembahasan yang bermakna.
Kesulitan menemukan pertanyaan penelitian juga sering muncul karena mahasiswa mencampurkan antara topik, masalah, dan pertanyaan penelitian. Topik merupakan wilayah pembahasan yang masih luas, sedangkan masalah penelitian menunjukkan adanya persoalan, kesenjangan, atau kondisi yang perlu dikaji. Pertanyaan penelitian kemudian menjadi bentuk yang lebih spesifik dari masalah tersebut sehingga dapat dijawab melalui proses penelitian.
Oleh karena itu, memahami mengapa rumusan masalah sulit dibuat menjadi langkah awal yang penting sebelum mencari pertanyaan penelitian. Dengan memahami sumber kesulitannya, peneliti dapat menghindari kesalahan umum dan membangun rumusan masalah secara bertahap. Artikel ini membahas alasan rumusan masalah sering sulit disusun, cara menemukan pertanyaan penelitian, hingga langkah praktis untuk memastikan pertanyaan tersebut sesuai dengan tujuan penelitian.

Mengapa Rumusan Masalah Sulit Dibuat?
Kesulitan membuat rumusan masalah umumnya bukan karena mahasiswa tidak memiliki ide penelitian, melainkan karena terlalu banyak ide yang ingin dimasukkan ke dalam satu penelitian. Ketika seseorang membaca berbagai artikel, buku, laporan, dan hasil penelitian terdahulu, semakin banyak pula kemungkinan persoalan yang terlihat. Situasi tersebut dapat membuat peneliti bingung menentukan persoalan mana yang benar-benar penting untuk dikaji. Akibatnya, rumusan masalah menjadi terlalu luas dan tidak memiliki batas yang jelas.
Muncul ketika peneliti belum memahami perbedaan antara topik penelitian dan masalah penelitian. Misalnya, “penggunaan kecerdasan buatan dalam pendidikan” merupakan topik yang sangat luas. Topik tersebut belum otomatis menjadi rumusan masalah karena masih mencakup banyak aspek, seperti efektivitas pembelajaran, etika akademik, kemampuan dosen, pengalaman mahasiswa, literasi digital, hingga kebijakan institusi. Agar dapat menjadi penelitian, topik tersebut perlu dipersempit berdasarkan fenomena dan tujuan yang ingin dikaji.
Rumusan masalah juga sulit dibuat ketika peneliti belum menemukan kesenjangan penelitian. Dalam penelitian akademik, pertanyaan penelitian yang kuat biasanya tidak hanya muncul karena suatu topik sedang populer, tetapi karena terdapat sesuatu yang belum cukup dijelaskan, belum konsisten hasilnya, belum dikaji pada konteks tertentu, atau memiliki persoalan yang membutuhkan pemahaman lebih lanjut. Tanpa mengetahui kesenjangan tersebut, peneliti cenderung membuat pertanyaan yang bersifat umum dan kurang memiliki kontribusi akademik.
Kecenderungan menggunakan kalimat yang terlalu kompleks. Sebuah rumusan masalah terkadang memuat terlalu banyak variabel, kelompok responden, lokasi, tujuan, dan hubungan yang ingin dianalisis sekaligus. Kalimat yang panjang belum tentu menunjukkan pertanyaan penelitian yang baik. Justru, rumusan masalah yang terlalu kompleks dapat menyulitkan peneliti ketika menentukan metode, instrumen, sumber data, dan teknik analisis.
Selain itu, sebagian mahasiswa menyusun rumusan masalah setelah menentukan hampir seluruh isi penelitian. Padahal, rumusan masalah seharusnya menjadi salah satu dasar dalam membangun keseluruhan rancangan penelitian. Ketika pertanyaan penelitian dibuat hanya untuk menyesuaikan data yang sudah tersedia, arah penelitian dapat menjadi kurang konsisten. Karena itu, peneliti perlu membangun hubungan yang logis antara fenomena, masalah, kesenjangan, pertanyaan penelitian, tujuan, metode, dan data yang akan digunakan.
Baca Juga: Pendampingan Skripsi Online untuk Mengatasi Kesulitan Menyusun Bab Skripsi
Kesalahan Umum Saat Menentukan Pertanyaan Penelitian
- Membuat pertanyaan penelitian yang jawabannya terlalu mudah ditemukan. Pertanyaan seperti “apa itu pembelajaran digital?” misalnya, lebih cocok digunakan sebagai pertanyaan pengantar dalam kajian pustaka daripada sebagai pertanyaan penelitian utama. Penelitian membutuhkan pertanyaan yang dapat dijawab melalui proses pengumpulan dan analisis data, bukan sekadar melalui pencarian definisi di buku atau internet.
- Membuat rumusan masalah yang terlalu luas. Pertanyaan seperti “bagaimana perkembangan pendidikan di Indonesia?” mencakup wilayah kajian yang sangat besar. Peneliti akan kesulitan menentukan populasi, variabel, sumber data, periode penelitian, dan indikator yang harus dianalisis. Rumusan masalah sebaiknya memiliki batas tertentu agar penelitian dapat diselesaikan secara realistis sesuai waktu, sumber daya, dan kemampuan peneliti.
- Memasukkan terlalu banyak pertanyaan yang sebenarnya tidak saling berkaitan. Peneliti mungkin ingin mengetahui faktor penyebab, dampak, persepsi, efektivitas, kebijakan, dan solusi dalam satu penelitian. Walaupun seluruh aspek tersebut menarik, menggabungkannya dalam satu rumusan masalah dapat menyebabkan penelitian kehilangan fokus. Pertanyaan penelitian perlu disusun berdasarkan satu arah persoalan yang memiliki hubungan logis.
- Menggunakan istilah yang tidak memiliki batas operasional. Kata seperti “efektif”, “baik”, “optimal”, “berhasil”, atau “berpengaruh” perlu digunakan secara hati-hati. Jika penelitian menanyakan apakah suatu program efektif, peneliti harus memiliki ukuran efektivitas yang jelas. Demikian pula jika menggunakan istilah “berpengaruh”, peneliti harus mempertimbangkan desain penelitian yang memungkinkan hubungan tersebut dianalisis secara tepat.
- Tidak menyesuaikan pertanyaan penelitian dengan metode yang dipilih. Pertanyaan “berapa besar pengaruh X terhadap Y?” membutuhkan pendekatan yang berbeda dari pertanyaan “bagaimana pengalaman mahasiswa dalam menggunakan X?”. Pertanyaan pertama cenderung membutuhkan data kuantitatif dan analisis hubungan atau pengaruh, sedangkan pertanyaan kedua dapat lebih sesuai dengan pendekatan kualitatif. Oleh sebab itu, penyusunan rumusan masalah tidak dapat dipisahkan dari pertimbangan metodologis.
Cara Menemukan Pertanyaan Penelitian dari Sebuah Topik
Menemukan pertanyaan penelitian dapat dilakukan secara bertahap, bukan dengan langsung menulis kalimat rumusan masalah. Langkah pertama adalah menentukan topik yang benar-benar ingin dikaji. Setelah topik ditentukan, peneliti perlu mempersempit ruang lingkupnya dengan mempertimbangkan objek, subjek, lokasi, periode, variabel, atau konteks tertentu.
Beberapa pertanyaan awal yang dapat digunakan untuk mempersempit topik antara lain:
- Fenomena apa yang sedang terjadi dalam topik tersebut?
- Siapa pihak yang mengalami atau terlibat dalam fenomena tersebut?
- Apa persoalan yang muncul dari fenomena tersebut?
- Mengapa persoalan tersebut penting untuk diteliti?
- Apa yang belum diketahui atau belum dijelaskan oleh penelitian sebelumnya?
- Apakah terdapat perbedaan hasil antara penelitian terdahulu?
- Dalam konteks apa persoalan tersebut belum banyak dikaji?
- Data apa yang dapat digunakan untuk menjawab persoalan tersebut?
- Apakah penelitian dapat dilakukan dengan sumber daya yang tersedia?
Setelah pertanyaan awal tersebut dijawab, peneliti dapat mulai mengidentifikasi masalah yang lebih spesifik. Sebagai contoh, topik “penggunaan AI dalam pendidikan” masih sangat luas. Peneliti dapat mempersempitnya menjadi penggunaan AI generatif oleh mahasiswa dalam proses penyusunan tugas akademik. Dari sini, peneliti dapat melihat persoalan yang lebih spesifik, misalnya bagaimana mahasiswa menggunakan AI, alasan penggunaannya, persepsi terhadap manfaatnya, atau tantangan dalam menjaga integritas akademik.
Membaca penelitian terdahulu. Literatur tidak hanya berfungsi sebagai sumber teori, tetapi juga dapat membantu menemukan celah penelitian. Ketika membaca artikel ilmiah, peneliti dapat memperhatikan bagian latar belakang, hasil penelitian, keterbatasan penelitian, rekomendasi penelitian berikutnya, serta perbedaan hasil antarpublikasi. Informasi tersebut dapat menjadi dasar untuk menyusun pertanyaan penelitian yang lebih relevan.
Peneliti kemudian perlu mengubah masalah menjadi bentuk pertanyaan. Misalnya, dari masalah “belum diketahui bagaimana mahasiswa menggunakan AI generatif dalam menyelesaikan tugas akademik” dapat dikembangkan menjadi pertanyaan penelitian mengenai bagaimana mahasiswa menggunakan AI generatif untuk mendukung penyelesaian tugas. Pertanyaan tersebut masih dapat dipersempit berdasarkan jenis tugas, program studi, tingkat pendidikan, atau konteks pembelajaran tertentu.
Teknik Mempersempit Rumusan Masalah agar Lebih Fokus
Rumusan masalah yang baik tidak harus membahas seluruh persoalan dalam suatu bidang. Penelitian justru membutuhkan batasan agar pembahasan dapat dilakukan secara mendalam. Salah satu teknik yang dapat digunakan adalah membuat peta masalah. Peneliti menuliskan topik utama di tengah, kemudian membuat cabang yang berisi faktor, dampak, aktor, kondisi, dan persoalan yang berkaitan dengan topik tersebut.
Setelah semua kemungkinan masalah dicatat, peneliti dapat menentukan bagian yang paling relevan dengan tujuan penelitian. Proses penyaringan tersebut dapat dilakukan menggunakan beberapa pertimbangan berikut:
- Relevansi masalah dengan bidang studi.
- Ketersediaan data yang dibutuhkan.
- Keterjangkauan lokasi atau subjek penelitian.
- Kesesuaian dengan waktu penelitian.
- Kesesuaian dengan metode yang dikuasai.
- Keberadaan penelitian terdahulu sebagai dasar kajian.
- Potensi kontribusi terhadap pengembangan pengetahuan.
- Kejelasan variabel atau konsep yang akan diteliti.
Cara lain adalah menggunakan pendekatan 5W+1H sebagai alat eksplorasi awal. What membantu peneliti menentukan apa yang terjadi. Who membantu mengidentifikasi pihak yang terlibat. Where menentukan konteks atau lokasi. When memberikan batas waktu. Why membantu memahami alasan persoalan penting. How membantu menentukan proses atau mekanisme yang ingin dipahami.
Sebagai contoh, topik “kepuasan mahasiswa terhadap layanan akademik” dapat dipersempit dengan menanyakan layanan apa yang dimaksud, mahasiswa dari kelompok mana yang menjadi subjek, pada institusi atau program studi mana penelitian dilakukan, periode pengumpulan data, faktor yang mungkin memengaruhi kepuasan, serta bagaimana kepuasan tersebut diukur. Dengan demikian, topik yang semula luas dapat berkembang menjadi rumusan masalah yang lebih terarah.
Hal yang juga perlu diperhatikan adalah kesesuaian antara rumusan masalah dan tujuan penelitian. Setiap pertanyaan penelitian sebaiknya memiliki tujuan yang jelas. Jika pertanyaan penelitian menanyakan faktor yang memengaruhi suatu fenomena, tujuan penelitian harus mengarah pada identifikasi atau analisis faktor tersebut. Jika pertanyaan penelitian berfokus pada pengalaman, tujuan penelitian harus diarahkan untuk memahami pengalaman tersebut.
Dengan pola tersebut, peneliti dapat memeriksa konsistensi rancangan sejak awal. Rumusan masalah menjadi pusat yang menghubungkan latar belakang, tujuan penelitian, metode, pembahasan, hingga kesimpulan. Semakin jelas pertanyaan penelitian yang dibuat, semakin mudah pula peneliti menentukan data apa yang diperlukan dan bagaimana data tersebut akan dianalisis.
Hubungan Rumusan Masalah dengan Arah Penelitian
Rumusan masalah bukan sekadar bagian administratif dalam proposal atau skripsi. Rumusan masalah berfungsi sebagai kompas penelitian karena membantu peneliti mempertahankan fokus ketika proses penelitian mulai berkembang. Dalam praktiknya, peneliti sering menemukan informasi baru ketika membaca literatur atau mengumpulkan data. Tanpa pertanyaan penelitian yang jelas, informasi tersebut dapat membuat penelitian melebar ke berbagai arah.
Pertanyaan penelitian juga membantu menentukan kedalaman pembahasan. Peneliti dapat membedakan informasi yang benar-benar dibutuhkan untuk menjawab rumusan masalah dengan informasi tambahan yang hanya bersifat pendukung. Hal ini penting karena penelitian akademik memiliki keterbatasan waktu dan sumber daya. Fokus yang jelas memungkinkan peneliti menggunakan sumber daya tersebut secara lebih terarah.
Rumusan masalah akan menjadi dasar untuk menyusun tujuan penelitian dan menentukan metode. Karena itu, proses menemukan pertanyaan penelitian sebaiknya tidak dilakukan secara terburu-buru. Peneliti perlu memahami fenomena, membaca literatur, menemukan kesenjangan, mempersempit ruang lingkup, lalu menyusun pertanyaan yang dapat dijawab secara ilmiah.
Bagi mahasiswa yang sedang menyusun skripsi, proses tersebut dapat dilakukan melalui beberapa kali revisi. Rumusan masalah pertama tidak selalu menjadi rumusan masalah final. Diskusi dengan dosen pembimbing, pembacaan literatur tambahan, dan pemahaman terhadap data dapat membantu menyempurnakan pertanyaan penelitian. Revisi bukan berarti penelitian gagal, melainkan bagian normal dari proses membangun penelitian yang lebih terarah.
Dalam proses penyusunan karya ilmiah, termasuk skripsi, mahasiswa juga dapat memanfaatkan layanan pendampingan seperti Klik Wisuda untuk membantu memahami tahapan akademik dan mempersiapkan penelitian secara lebih terstruktur. Namun, keputusan mengenai topik dan pertanyaan penelitian tetap perlu disesuaikan dengan tujuan akademik, data yang tersedia, serta arahan pembimbing.
Cara Mengecek Apakah Rumusan Masalah Sudah Tepat
Setelah menemukan beberapa pertanyaan penelitian, langkah berikutnya adalah melakukan pemeriksaan sebelum rumusan masalah ditetapkan. Tahap ini penting karena pertanyaan yang terlihat menarik belum tentu dapat dijadikan dasar penelitian. Rumusan masalah perlu memenuhi beberapa kriteria, terutama berkaitan dengan kejelasan, fokus, relevansi, keterukuran, dan kemungkinan untuk dijawab berdasarkan data. Pemeriksaan sejak awal dapat mengurangi risiko perubahan besar ketika penelitian sudah berjalan.
- Periksa apakah rumusan masalah menggunakan kalimat yang mudah dipahami. Hindari penggunaan kalimat yang terlalu panjang atau menggabungkan banyak persoalan sekaligus. Satu pertanyaan penelitian sebaiknya memiliki fokus yang jelas sehingga pembaca dapat mengetahui apa yang sebenarnya ingin dicari jawabannya. Jika seseorang membaca rumusan masalah tetapi masih bertanya tentang objek, subjek, atau persoalan yang diteliti, rumusan tersebut kemungkinan masih perlu diperbaiki.
- Pperiksa hubungan antara rumusan masalah dan latar belakang. Masalah yang ditanyakan harus muncul secara logis dari uraian fenomena dan kesenjangan yang telah dijelaskan sebelumnya. Jangan sampai latar belakang membahas persoalan A, tetapi rumusan masalah justru menanyakan persoalan B yang tidak memiliki dasar pembahasan yang cukup. Konsistensi ini menjadi salah satu indikator bahwa penelitian memiliki arah yang jelas.
- Periksa apakah pertanyaan penelitian dapat dijawab menggunakan metode ilmiah. Pertanyaan penelitian bukan sekadar pertanyaan yang menarik untuk didiskusikan, tetapi harus memungkinkan peneliti memperoleh bukti atau data. Pertanyaan mengenai pengalaman, persepsi, hubungan antarvariabel, perubahan, proses, atau faktor penyebab membutuhkan strategi pengumpulan data yang berbeda. Karena itu, peneliti perlu membayangkan sejak awal bagaimana jawaban terhadap pertanyaan tersebut akan diperoleh.
- Periksa keterbatasan penelitian. Pertanyaan penelitian yang terlalu luas dapat menyebabkan kebutuhan data menjadi sangat besar. Sebaliknya, pertanyaan yang terlalu sempit dapat membuat hasil penelitian kurang memberikan ruang untuk analisis. Keseimbangan perlu dicapai dengan mempertimbangkan waktu, kemampuan peneliti, akses terhadap responden atau sumber data, serta ketentuan akademik yang berlaku pada program studi.
Contoh Mengubah Topik Menjadi Pertanyaan Penelitian
Memahami proses perubahan dari topik menjadi rumusan masalah akan lebih mudah melalui contoh. Misalnya, seorang mahasiswa tertarik pada topik “media sosial dan mahasiswa”. Topik tersebut belum cukup spesifik untuk menjadi dasar penelitian karena dapat membahas penggunaan media sosial, dampaknya terhadap pembelajaran, komunikasi antarmahasiswa, kesehatan digital, produktivitas, hingga pembentukan komunitas.
Menemukan fenomena tertentu. Misalnya, mahasiswa semakin sering menggunakan media sosial sebagai sumber informasi akademik. Dari fenomena tersebut, peneliti dapat bertanya apakah penggunaan media sosial benar-benar membantu mahasiswa menemukan informasi yang dibutuhkan, bagaimana mahasiswa menilai kredibilitas informasi, atau bagaimana mereka menentukan sumber yang dapat dipercaya.
Jika penelitian diarahkan pada pengalaman mahasiswa, pertanyaan penelitian dapat difokuskan pada bagaimana mahasiswa menggunakan media sosial sebagai sumber informasi akademik. Jika penelitian diarahkan pada hubungan antarvariabel, fokusnya dapat berubah menjadi hubungan antara intensitas penggunaan media sosial untuk mencari informasi akademik dengan kemampuan mahasiswa dalam menemukan sumber pembelajaran. Kedua pertanyaan tersebut berasal dari topik yang sama, tetapi membutuhkan desain penelitian dan data yang berbeda.
Contoh lain dapat dilihat pada topik “pembelajaran daring”. Topik tersebut dapat dikembangkan menjadi berbagai arah penelitian. Peneliti dapat mengkaji pengalaman mahasiswa selama mengikuti pembelajaran daring, faktor yang memengaruhi partisipasi, efektivitas strategi pengajaran tertentu, atau kendala yang dialami dosen. Pilihan pertanyaan harus ditentukan berdasarkan masalah yang benar-benar ingin dipahami dan data yang dapat diperoleh.
Dari contoh tersebut terlihat bahwa menemukan pertanyaan penelitian bukan berarti mencari kalimat yang terdengar ilmiah. Hal terpenting adalah memastikan adanya hubungan antara fenomena, masalah, tujuan, dan data. Kalimat yang sederhana tetapi memiliki fokus yang kuat dapat menjadi rumusan masalah yang lebih berguna dibandingkan kalimat panjang yang menggunakan banyak istilah akademik tetapi tidak memiliki arah yang jelas.
Pertanyaan Penelitian untuk Pendekatan Kuantitatif dan Kualitatif
Jenis pertanyaan penelitian juga perlu disesuaikan dengan pendekatan yang digunakan. Pada penelitian kuantitatif, pertanyaan sering diarahkan pada pengukuran, hubungan, perbedaan, atau pengaruh antarvariabel. Karena itu, variabel penelitian harus dapat diidentifikasi dan diukur menggunakan indikator yang sesuai.
Contoh pertanyaan penelitian kuantitatif antara lain:
- Apakah terdapat hubungan antara intensitas penggunaan platform pembelajaran digital dan tingkat keterlibatan mahasiswa?
- Apakah terdapat perbedaan hasil belajar antara mahasiswa yang menggunakan metode pembelajaran tertentu dan mahasiswa yang menggunakan metode pembelajaran lainnya?
- Seberapa besar hubungan antara literasi digital dan kemampuan mahasiswa dalam mencari sumber akademik?
- Faktor apa saja yang memiliki hubungan dengan tingkat kepuasan mahasiswa terhadap layanan akademik?
Sementara itu, penelitian kualitatif lebih sering menggunakan pertanyaan yang bertujuan memahami pengalaman, proses, makna, perspektif, atau kondisi tertentu secara mendalam. Kata seperti “bagaimana” dan “mengapa” sering digunakan, meskipun pemilihan kata tersebut tetap harus disesuaikan dengan tujuan penelitian.
Contoh pertanyaan penelitian kualitatif antara lain:
- Bagaimana pengalaman mahasiswa dalam menggunakan AI untuk mendukung kegiatan akademik?
- Bagaimana mahasiswa memahami penggunaan sumber digital dalam proses penyusunan tugas?
- Mengapa mahasiswa memilih sumber tertentu ketika mencari informasi akademik?
- Bagaimana dosen mengalami proses penerapan teknologi digital dalam pembelajaran?
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa tidak ada satu bentuk rumusan masalah yang berlaku untuk seluruh penelitian. Pertanyaan penelitian harus mengikuti tujuan dan pendekatan yang digunakan. Peneliti tidak perlu memaksakan bentuk pertanyaan tertentu hanya karena dianggap lebih akademik. Yang lebih penting adalah kesesuaian antara pertanyaan, metode, data, dan analisis.
Checklist Sebelum Menetapkan Rumusan Masalah
Sebelum memasukkan rumusan masalah ke dalam proposal atau skripsi, peneliti dapat melakukan pemeriksaan sederhana. Checklist ini membantu memastikan bahwa pertanyaan penelitian tidak hanya menarik, tetapi juga realistis dan relevan.
Beberapa hal yang dapat diperiksa meliputi:
- Apakah masalah penelitian berasal dari fenomena yang jelas?
- Apakah terdapat alasan akademik atau praktis untuk mengkaji masalah tersebut?
- Apakah penelitian terdahulu sudah dibaca untuk memahami perkembangan topik?
- Apakah terdapat kesenjangan atau aspek yang masih perlu dikaji?
- Apakah subjek atau objek penelitian sudah jelas?
- Apakah ruang lingkup penelitian sudah dibatasi?
- Apakah pertanyaan penelitian dapat dijawab dengan data?
- Apakah metode penelitian sesuai dengan bentuk pertanyaan?
- Apakah waktu dan sumber daya memungkinkan penelitian dilakukan?
- Apakah setiap pertanyaan memiliki hubungan dengan tujuan penelitian?
- Apakah pertanyaan penelitian dapat menghasilkan pembahasan yang relevan?
- Apakah jumlah pertanyaan sudah proporsional dengan skala penelitian?
Jika sebagian besar pertanyaan tersebut dapat dijawab dengan jelas, rumusan masalah sudah memiliki dasar yang cukup kuat untuk dikembangkan. Namun, checklist tersebut bukan pengganti diskusi dengan dosen pembimbing. Setiap program studi dapat memiliki ketentuan yang berbeda mengenai bentuk rumusan masalah, jumlah pertanyaan, variabel, atau pendekatan penelitian.
Strategi Praktis Menemukan Pertanyaan Penelitian
Bagi mahasiswa yang masih merasa buntu, proses menemukan pertanyaan penelitian dapat dimulai dari membaca tiga sampai lima penelitian terdahulu yang benar-benar dekat dengan topik. Jangan hanya membaca abstrak. Perhatikan latar belakang, metode, hasil, keterbatasan, dan rekomendasi penelitian. Dari sana, buat catatan mengenai apa yang sudah diketahui dan apa yang masih belum jelas.
Strategi berikutnya adalah membuat dua kolom sederhana. Kolom pertama berisi “yang sudah diketahui”, sedangkan kolom kedua berisi “yang belum diketahui”. Misalnya, dari beberapa penelitian diketahui bahwa mahasiswa menggunakan teknologi AI untuk membantu tugas akademik. Namun, belum diketahui bagaimana mereka menentukan kapan penggunaan AI dianggap membantu dan kapan penggunaannya justru menimbulkan kesulitan. Perbedaan tersebut dapat menjadi titik awal pertanyaan penelitian.
Peneliti juga dapat menggunakan pola “fenomena–masalah–kesenjangan–pertanyaan”. Fenomena menjelaskan apa yang sedang terjadi. Masalah menjelaskan persoalan yang muncul. Kesenjangan menunjukkan bagian yang belum cukup diketahui atau belum konsisten. Pertanyaan penelitian kemudian dirumuskan berdasarkan kesenjangan tersebut.
Pola tersebut dapat digambarkan secara sederhana:
Fenomena → Masalah → Kesenjangan → Pertanyaan Penelitian → Tujuan → Metode → Data → Analisis → Kesimpulan
Urutan tersebut membantu peneliti memahami bahwa rumusan masalah tidak berdiri sendiri. Perubahan pada pertanyaan penelitian dapat memengaruhi tujuan, metode, jenis data, hingga teknik analisis. Karena itu, semakin matang proses menemukan pertanyaan penelitian, semakin mudah pula bagian penelitian lainnya disusun.
Menghindari Rumusan Masalah yang Terlalu Umum
Rumusan masalah yang terlalu umum biasanya menggunakan objek yang sangat luas tanpa memberikan batasan yang jelas. Contohnya adalah “bagaimana pengaruh teknologi terhadap pendidikan?” Pertanyaan tersebut dapat menghasilkan ribuan kemungkinan jawaban karena teknologi mencakup banyak jenis, sedangkan pendidikan mencakup berbagai jenjang, mata pelajaran, institusi, dan proses pembelajaran.
Pertanyaan tersebut dapat dipersempit berdasarkan jenis teknologi. Misalnya, penelitian diarahkan pada penggunaan platform pembelajaran digital. Kemudian ruang lingkup dapat dibatasi lagi berdasarkan kelompok mahasiswa, program studi, lokasi, atau jenis aktivitas pembelajaran. Setelah batas tersebut ditentukan, peneliti dapat memilih aspek tertentu yang ingin dianalisis.
Prinsip yang sama berlaku pada berbagai topik. Jika topiknya “kepuasan mahasiswa”, peneliti perlu menentukan kepuasan terhadap apa. Jika topiknya “motivasi belajar”, peneliti perlu menentukan konteks pembelajaran yang dimaksud. Jika topiknya “kinerja dosen”, peneliti perlu menentukan aspek kinerja yang ingin dikaji. Semakin jelas batas penelitian, semakin mudah rumusan masalah dikembangkan.
Namun, mempersempit penelitian bukan berarti membuat masalah menjadi tidak penting. Justru penelitian dengan ruang lingkup yang terkontrol memungkinkan peneliti melakukan analisis lebih mendalam. Penelitian yang fokus dapat menghasilkan pembahasan yang lebih terarah dibandingkan penelitian yang mencoba menjelaskan terlalu banyak persoalan sekaligus.
Peran Literatur dalam Menemukan Pertanyaan Penelitian
Literatur merupakan salah satu sumber utama untuk menemukan pertanyaan penelitian. Dengan membaca penelitian terdahulu, peneliti dapat memahami bagaimana suatu masalah telah dikaji, metode yang pernah digunakan, teori yang relevan, serta temuan yang sudah tersedia. Literatur juga membantu peneliti menghindari pengulangan penelitian tanpa alasan yang jelas.
Akan tetapi, menemukan gap penelitian tidak selalu berarti harus mencari topik yang belum pernah diteliti sama sekali. Dalam banyak bidang ilmu, penelitian dapat memberikan kontribusi melalui konteks baru, populasi berbeda, metode berbeda, periode berbeda, atau pengujian terhadap hasil penelitian sebelumnya. Karena itu, peneliti perlu memahami literatur secara kritis dan tidak hanya mencari kalimat “belum pernah diteliti”.
Ketika membaca jurnal, peneliti dapat mencatat beberapa hal penting, seperti objek penelitian, lokasi, karakteristik responden, metode, variabel, teori, hasil utama, keterbatasan, dan rekomendasi. Catatan tersebut kemudian dapat dibandingkan antarpublikasi. Jika ditemukan perbedaan hasil, keterbatasan tertentu, atau konteks yang belum banyak dikaji, bagian tersebut dapat menjadi bahan untuk menyusun pertanyaan penelitian.
Dengan cara tersebut, rumusan masalah tidak dibuat berdasarkan dugaan semata. Pertanyaan penelitian memiliki landasan yang berasal dari fenomena dan literatur. Hal inilah yang membuat penelitian menjadi lebih terarah dan memiliki alasan akademik yang dapat dipertanggungjawabkan.
Baca Juga: Cara Menanggapi Revisi Rumusan Masalah dari Dosen Pembimbing
Kesimpulan
Rumusan masalah sulit dibuat karena peneliti harus mengubah topik yang luas menjadi persoalan yang spesifik dan dapat diteliti. Kesulitan biasanya muncul karena terlalu banyak ide, belum memahami perbedaan antara topik dan masalah, belum menemukan kesenjangan penelitian, atau belum mempertimbangkan kesesuaian antara pertanyaan dan metode. Oleh sebab itu, proses membuat rumusan masalah membutuhkan tahapan eksplorasi, bukan sekadar menulis beberapa kalimat dalam proposal.
Cara menemukan pertanyaan penelitian dapat dimulai dengan memahami fenomena, mempersempit topik, membaca penelitian terdahulu, mengidentifikasi masalah dan kesenjangan, kemudian mengubahnya menjadi pertanyaan yang dapat dijawab menggunakan data. Rumusan masalah juga perlu diperiksa berdasarkan kejelasan, fokus, relevansi, keterjangkauan, dan kesesuaiannya dengan tujuan serta metode penelitian. Dengan proses tersebut, pertanyaan penelitian dapat menjadi dasar yang kuat untuk mengembangkan keseluruhan penelitian.
Pada akhirnya, rumusan masalah bukan hanya formalitas dalam proposal skripsi atau karya ilmiah. Rumusan masalah berfungsi sebagai arah yang menjaga penelitian tetap berada pada jalurnya. Mahasiswa yang mampu menemukan pertanyaan penelitian secara tepat akan lebih mudah menentukan tujuan, metode, data, dan pembahasan. Jika masih mengalami kesulitan dalam menyusun penelitian, mahasiswa dapat mencari pendampingan akademik seperti Klik Wisuda sekaligus tetap berkonsultasi dengan dosen pembimbing agar rumusan masalah yang dipilih sesuai dengan ketentuan dan kebutuhan penelitian. Jika kamu membutuhkan bantuan dalam proses revisi, pengecekan tata bahasa akademik, proofreading, atau pendampingan penyusunan skripsi, Hubungi Admin Klik Wisuda

