Kendala Menyusun Rumusan Masalah dalam Penelitian Kuantitatif

Rumusan masalah merupakan salah satu bagian penting dalam penelitian kuantitatif karena menjadi dasar untuk menentukan arah penelitian, variabel yang akan dikaji, metode pengumpulan data, hingga teknik analisis yang digunakan. Namun, dalam praktiknya, banyak mahasiswa maupun peneliti pemula mengalami kendala menyusun rumusan masalah dalam penelitian kuantitatif. Kesulitan tersebut dapat muncul ketika peneliti belum mampu mempersempit topik, menentukan variabel, menemukan kesenjangan penelitian, atau mengubah permasalahan umum menjadi pertanyaan penelitian yang dapat diukur.

Penelitian kuantitatif membutuhkan rumusan masalah yang jelas, spesifik, terukur, dan memiliki hubungan yang logis dengan tujuan penelitian. Rumusan masalah tidak cukup hanya menjelaskan bahwa terdapat suatu persoalan, tetapi harus menunjukkan hal yang ingin diketahui melalui data. Karena itu, memahami kendala menyusun rumusan masalah dalam penelitian kuantitatif dapat membantu peneliti menghasilkan pertanyaan penelitian yang lebih terarah dan sesuai dengan pendekatan kuantitatif.

Dalam proses penyusunan karya ilmiah seperti skripsi, rumusan masalah juga memiliki hubungan erat dengan latar belakang penelitian. Latar belakang menjelaskan konteks dan alasan suatu masalah perlu diteliti, sedangkan rumusan masalah memfokuskan persoalan tersebut ke dalam pertanyaan yang akan dijawab melalui penelitian. Kesalahan pada tahap ini dapat berdampak pada bagian lain, mulai dari tujuan penelitian, hipotesis, instrumen penelitian, hingga pembahasan hasil.

Memahami Rumusan Masalah dalam Penelitian Kuantitatif

Rumusan masalah dalam penelitian kuantitatif merupakan pertanyaan penelitian yang disusun berdasarkan masalah tertentu dan dapat dijawab menggunakan data yang terukur. Rumusan tersebut menjadi pedoman bagi peneliti untuk menentukan informasi apa yang perlu dikumpulkan dan bagaimana informasi tersebut akan dianalisis. Oleh sebab itu, rumusan masalah tidak seharusnya dibuat secara terpisah dari keseluruhan rancangan penelitian. Setiap pertanyaan perlu memiliki keterkaitan dengan latar belakang, variabel penelitian, tujuan, dan metode yang digunakan.

Salah satu kendala menyusun rumusan masalah dalam penelitian kuantitatif adalah ketika peneliti masih melihat topik dalam ruang lingkup yang terlalu luas. Misalnya, seseorang ingin meneliti tentang pendidikan, teknologi, motivasi belajar, atau penggunaan media sosial. Topik tersebut belum menjadi rumusan masalah karena masih memiliki cakupan yang sangat besar. Peneliti perlu menentukan konteks, subjek, variabel, lokasi, atau hubungan tertentu agar permasalahan dapat dikaji secara lebih spesifik.

Rumusan masalah kuantitatif umumnya berkaitan dengan pertanyaan mengenai kondisi suatu variabel, hubungan antarvariabel, pengaruh suatu variabel terhadap variabel lain, atau perbedaan antara kelompok tertentu. Bentuk pertanyaan tersebut harus disesuaikan dengan desain penelitian. Penelitian deskriptif, korelasional, komparatif, dan eksperimen memiliki kebutuhan rumusan masalah yang berbeda. Karena itu, peneliti perlu memahami jenis penelitian sebelum menentukan bentuk pertanyaan yang akan digunakan.

Kejelasan konsep juga menjadi bagian penting dalam penyusunan rumusan masalah. Istilah yang digunakan harus memiliki makna yang dapat dijelaskan secara operasional. Contohnya, istilah “keberhasilan belajar” perlu diterjemahkan menjadi indikator yang dapat diukur, seperti nilai hasil belajar atau pencapaian kompetensi tertentu. Begitu pula “motivasi belajar” harus memiliki indikator yang jelas berdasarkan teori atau instrumen yang relevan. Tanpa kejelasan tersebut, rumusan masalah dapat menjadi terlalu abstrak untuk diteliti secara kuantitatif.

Dengan demikian, memahami rumusan masalah bukan sekadar mengetahui cara membuat kalimat pertanyaan. Peneliti perlu memahami hubungan antara masalah penelitian, variabel, teori, data, dan metode analisis. Semakin baik pemahaman tersebut, semakin mudah peneliti menghindari kendala menyusun rumusan masalah dalam penelitian kuantitatif. Rumusan masalah yang baik akan membantu penelitian berjalan secara sistematis karena peneliti memiliki arah yang jelas mengenai apa yang harus dibuktikan atau diketahui.

Baca Juga: Pendampingan Skripsi Online untuk Mengatasi Kesulitan Menyusun Bab Skripsi

Kendala Menentukan Fokus dan Variabel Penelitian

Kesulitan menentukan fokus penelitian, Peneliti terkadang memiliki banyak ide sekaligus sehingga ingin memasukkan berbagai masalah ke dalam satu penelitian. Kondisi tersebut dapat membuat rumusan masalah menjadi terlalu panjang dan tidak fokus. Padahal, penelitian kuantitatif membutuhkan batasan yang jelas agar proses pengumpulan dan analisis data dapat dilakukan secara efektif. Fokus penelitian dapat ditentukan dengan mempertimbangkan fenomena yang ditemukan, teori yang relevan, data yang tersedia, serta kemampuan peneliti.

Berkaitan dengan penentuan variabel penelitian, Dalam pendekatan kuantitatif, variabel memiliki peranan penting karena menjadi objek yang diukur atau dianalisis. Peneliti harus dapat membedakan variabel bebas, variabel terikat, dan jenis variabel lain sesuai desain penelitian. Kesalahan menentukan variabel dapat menyebabkan rumusan masalah tidak sesuai dengan metode yang dipilih. Misalnya, peneliti menggunakan kata “pengaruh” tetapi rancangan penelitiannya hanya mampu menggambarkan hubungan antarvariabel tanpa memberikan dasar yang memadai untuk menguji pengaruh.

Peneliti juga sering mengalami kesulitan ketika menentukan hubungan antarvariabel. Tidak semua variabel yang tampak berkaitan secara logis dapat langsung dijadikan hubungan penelitian. Hubungan tersebut sebaiknya memiliki dasar teori dan didukung oleh penelitian terdahulu. Contohnya, apabila penelitian membahas penggunaan media pembelajaran dan hasil belajar, peneliti perlu memiliki alasan teoritis mengenai bagaimana penggunaan media tersebut berkaitan dengan hasil belajar. Dasar tersebut kemudian membantu peneliti menyusun rumusan masalah secara lebih logis.

Selain itu, terlalu banyak variabel dapat menjadi kendala dalam menyusun rumusan masalah. Keinginan untuk membuat penelitian terlihat lengkap terkadang mendorong peneliti memasukkan banyak variabel sekaligus. Akibatnya, penelitian menjadi sulit dikelola dan membutuhkan instrumen serta data yang lebih kompleks. Peneliti sebaiknya memilih variabel yang benar-benar relevan dengan masalah utama. Pembatasan tersebut bukan berarti mengurangi kualitas penelitian, tetapi justru membantu penelitian menjadi lebih terarah dan mendalam.

Kendala menyusun rumusan masalah dalam penelitian kuantitatif juga dapat muncul karena peneliti belum membedakan antara topik, masalah, dan pertanyaan penelitian. Topik merupakan bidang yang ingin dikaji, sedangkan masalah menunjukkan persoalan yang membutuhkan penjelasan atau pengujian. Rumusan masalah kemudian mengubah persoalan tersebut menjadi pertanyaan yang dapat dijawab melalui data. Perbedaan ketiga hal tersebut perlu dipahami sejak awal agar peneliti tidak berhenti pada pembahasan yang terlalu umum.

Bentuk Kendala yang Sering Muncul Saat Menyusun Rumusan Masalah

Penyusunan rumusan masalah membutuhkan proses berpikir yang sistematis. Peneliti perlu melihat apakah pertanyaan yang dibuat benar-benar berasal dari masalah penelitian dan dapat dijawab menggunakan pendekatan kuantitatif. Beberapa kendala dapat muncul sejak tahap menentukan topik hingga menyusun pertanyaan akhir.

Beberapa kendala yang umum terjadi antara lain:

  • Topik penelitian terlalu luas sehingga sulit diturunkan menjadi masalah yang spesifik.
  • Peneliti belum menemukan fenomena atau kesenjangan yang cukup jelas.
  • Variabel penelitian belum ditentukan secara tepat.
  • Hubungan antara variabel belum memiliki dasar teori yang kuat.
  • Rumusan masalah masih berbentuk pernyataan umum dan belum menjadi pertanyaan penelitian.
  • Pertanyaan menggunakan istilah yang sulit diukur secara kuantitatif.
  • Jumlah pertanyaan penelitian terlalu banyak dibandingkan kemampuan penelitian.
  • Rumusan masalah tidak sesuai dengan tujuan penelitian.
  • Rumusan masalah tidak sesuai dengan metode atau desain penelitian.
  • Peneliti mencampurkan beberapa jenis pertanyaan yang sebenarnya membutuhkan desain penelitian berbeda.

Kendala tersebut menunjukkan bahwa membuat rumusan masalah bukan hanya persoalan memilih kata yang tepat. Peneliti perlu memastikan bahwa setiap pertanyaan memiliki dasar ilmiah dan dapat dijawab melalui proses penelitian. Jika rumusan masalah masih terlalu luas, peneliti dapat mempersempitnya berdasarkan subjek, lokasi, periode, variabel, atau hubungan tertentu.

Sebagai contoh, pertanyaan “Bagaimana pendidikan di Indonesia?” masih terlalu luas untuk penelitian kuantitatif sederhana. Pertanyaan tersebut dapat dipersempit menjadi “Apakah penggunaan media pembelajaran digital berhubungan dengan hasil belajar siswa kelas XII?” Pertanyaan kedua memiliki variabel yang lebih jelas dan memungkinkan peneliti menentukan data yang diperlukan.

Faktor yang Menyebabkan Rumusan Masalah Sulit Disusun

Kesulitan menyusun rumusan masalah dapat disebabkan oleh faktor internal maupun faktor yang berkaitan dengan proses penelitian. Peneliti yang belum memahami teori biasanya akan lebih sulit menentukan variabel dan hubungan antarvariabel. Sebaliknya, peneliti yang memiliki pemahaman teori tetapi tidak memahami kondisi lapangan juga dapat mengalami kesulitan karena rumusan masalah yang dibuat mungkin tidak sesuai dengan fenomena nyata.

Beberapa faktor penyebabnya dapat dilihat melalui poin berikut:

  • Kurangnya pemahaman terhadap pendekatan kuantitatif.
  • Minimnya membaca penelitian terdahulu.
  • Belum memahami teori yang menjadi landasan penelitian.
  • Latar belakang penelitian terlalu umum.
  • Tidak adanya batasan masalah yang jelas.
  • Kesulitan menemukan data yang tersedia.
  • Pemilihan topik didasarkan hanya pada tren tanpa melihat masalah yang dapat diteliti.
  • Kurangnya diskusi dengan dosen pembimbing.
  • Tidak memahami perbedaan korelasi, pengaruh, perbedaan, dan deskripsi.
  • Tidak menyesuaikan rumusan masalah dengan desain penelitian.

Membaca penelitian terdahulu merupakan salah satu langkah yang dapat membantu mengurangi kendala tersebut. Dari penelitian terdahulu, peneliti dapat melihat variabel yang pernah digunakan, metode yang diterapkan, karakteristik responden, serta temuan yang masih dapat dikembangkan. Namun, penelitian terdahulu tidak boleh sekadar ditiru. Peneliti perlu menemukan ruang pengembangan yang relevan agar rumusan masalah memiliki alasan ilmiah.

Selain membaca literatur, peneliti perlu melakukan pemetaan masalah. Pemetaan dapat dilakukan dengan mencatat fenomena yang ditemukan, kemungkinan variabel, teori pendukung, penelitian terdahulu, dan data yang tersedia. Cara tersebut membantu peneliti melihat hubungan antara berbagai unsur sebelum menyusun pertanyaan penelitian. Dengan persiapan yang lebih sistematis, proses menyusun rumusan masalah dapat dilakukan dengan lebih terarah.

Pentingnya Menyesuaikan Rumusan Masalah dengan Tujuan Penelitian

Rumusan masalah dan tujuan penelitian merupakan dua bagian yang saling berkaitan. Rumusan masalah berisi pertanyaan yang ingin dijawab, sedangkan tujuan penelitian menjelaskan hal yang ingin dicapai melalui penelitian tersebut. Oleh karena itu, jumlah dan fokus keduanya harus konsisten. Jika terdapat tiga rumusan masalah, tujuan penelitian seharusnya memberikan arah untuk menjawab ketiga pertanyaan tersebut.

Konsistensi tersebut juga perlu dilanjutkan pada hipotesis, metode pengumpulan data, instrumen, dan teknik analisis. Misalnya, apabila rumusan masalah menanyakan hubungan antara dua variabel, maka penelitian perlu memiliki data dari kedua variabel tersebut dan menggunakan analisis yang sesuai. Apabila rumusan masalah menanyakan perbedaan dua kelompok, maka rancangan penelitian dan teknik analisis juga perlu mendukung pertanyaan tersebut.

Kesalahan menyusun rumusan masalah pada tahap awal dapat menimbulkan masalah berantai dalam penulisan skripsi atau laporan penelitian. Karena itu, peneliti sebaiknya tidak terburu-buru menentukan rumusan masalah sebelum memahami latar belakang, teori, penelitian terdahulu, variabel, dan metode yang akan digunakan. Penyusunan yang matang akan membuat penelitian lebih mudah dikembangkan hingga tahap analisis dan penarikan kesimpulan.

Bagi mahasiswa yang sedang mempersiapkan skripsi, memahami kendala menyusun rumusan masalah dalam penelitian kuantitatif dapat menjadi langkah awal untuk menghindari revisi yang berulang. Rumusan masalah yang jelas membantu dosen pembimbing memahami arah penelitian dan memudahkan mahasiswa menjelaskan alasan pemilihan topik. Proses tersebut juga dapat menjadi dasar untuk menyusun proposal penelitian yang lebih sistematis.

Dalam proses pengembangan karya ilmiah dan persiapan akademik, mahasiswa juga dapat mencari referensi serta layanan pendukung yang relevan. Salah satu sumber yang dapat digunakan untuk mendapatkan informasi terkait kebutuhan akademik adalah Klik Wisuda.

Cara Mengatasi Kendala Menyusun Rumusan Masalah dalam Penelitian Kuantitatif

Mengatasi kendala menyusun rumusan masalah dalam penelitian kuantitatif perlu dilakukan secara bertahap agar pertanyaan penelitian yang dihasilkan benar-benar sesuai dengan masalah yang ingin dikaji. Langkah pertama yang dapat dilakukan adalah membaca kembali latar belakang penelitian. Dari bagian tersebut, peneliti dapat mengidentifikasi fenomena utama, kesenjangan antara kondisi ideal dan kondisi nyata, serta alasan mengapa masalah tersebut penting untuk diteliti. Rumusan masalah sebaiknya tidak muncul secara tiba-tiba, tetapi merupakan hasil penyempitan dari pembahasan yang telah dijelaskan dalam latar belakang.

Setelah menemukan masalah utama, peneliti dapat menentukan variabel yang berkaitan dengan masalah tersebut. Variabel perlu memiliki definisi yang jelas dan indikator yang memungkinkan untuk diukur. Peneliti juga perlu mempertimbangkan ketersediaan data dan karakteristik responden. Dengan demikian, rumusan masalah tidak hanya menarik secara akademik, tetapi juga realistis untuk dilaksanakan. Tahap ini penting karena salah satu kendala menyusun rumusan masalah dalam penelitian kuantitatif adalah membuat pertanyaan yang terlihat baik secara teori, tetapi sulit dijawab karena keterbatasan data.

Beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk memperbaiki rumusan masalah antara lain:

  • Menentukan masalah utama yang benar-benar ingin diteliti.
  • Membatasi ruang lingkup penelitian berdasarkan subjek dan objek.
  • Mengidentifikasi variabel penelitian yang relevan.
  • Membaca teori yang berkaitan dengan setiap variabel.
  • Membandingkan penelitian terdahulu untuk menemukan celah penelitian.
  • Menentukan hubungan atau perbedaan yang ingin diuji.
  • Memastikan setiap variabel dapat diukur.
  • Menyesuaikan pertanyaan dengan desain penelitian.
  • Memeriksa kesesuaian rumusan masalah dengan tujuan penelitian.
  • Mendiskusikan rumusan masalah dengan dosen pembimbing sebelum penelitian dilanjutkan.

Peneliti juga dapat menggunakan beberapa pertanyaan evaluasi sebelum menetapkan rumusan masalah. Misalnya, apakah pertanyaan tersebut dapat dijawab dengan data? Apakah variabelnya dapat diukur? Apakah terdapat teori yang mendukung? Apakah pertanyaan tersebut sesuai dengan metode penelitian? Apakah ruang lingkupnya cukup terbatas? Pertanyaan evaluasi tersebut dapat membantu menemukan kelemahan rumusan masalah sejak tahap proposal sehingga revisi dapat diminimalkan.

jasa skripsi klikwisuda

Ciri-Ciri Rumusan Masalah Kuantitatif yang Perlu Diperhatikan

Rumusan masalah yang baik perlu memenuhi beberapa karakteristik agar dapat menjadi pedoman penelitian. Salah satu ciri utamanya adalah memiliki fokus yang jelas. Pertanyaan penelitian harus menunjukkan persoalan tertentu, bukan sekadar membahas suatu bidang secara umum. Fokus tersebut dapat diarahkan pada kondisi variabel, hubungan antarvariabel, pengaruh, atau perbedaan sesuai dengan tujuan penelitian.

Ciri berikutnya adalah dapat diteliti secara empiris. Artinya, pertanyaan yang dibuat memungkinkan peneliti memperoleh jawaban berdasarkan data. Pertanyaan seperti “Mengapa pendidikan harus maju?” terlalu umum dan bersifat normatif. Sementara itu, pertanyaan seperti “Apakah penggunaan media pembelajaran digital berhubungan dengan hasil belajar siswa?” lebih memungkinkan untuk dikaji secara kuantitatif karena terdapat variabel yang dapat diidentifikasi dan diukur.

Beberapa ciri rumusan masalah penelitian kuantitatif yang dapat dijadikan pedoman adalah:

  • Spesifik dan tidak memiliki cakupan yang terlalu luas.
  • Memuat masalah yang dapat diteliti menggunakan data.
  • Memiliki variabel yang jelas.
  • Menggunakan konsep yang dapat dioperasionalkan.
  • Memiliki hubungan dengan latar belakang penelitian.
  • Selaras dengan tujuan penelitian.
  • Sesuai dengan desain penelitian.
  • Dapat dianalisis menggunakan metode statistik yang relevan.
  • Memiliki dasar teori dan penelitian terdahulu.
  • Realistis untuk diselesaikan berdasarkan waktu, sumber daya, dan kemampuan peneliti.

Selain memperhatikan ciri tersebut, peneliti perlu memastikan penggunaan kata dalam rumusan masalah. Kata “apakah”, “bagaimana”, “seberapa besar”, “adakah hubungan”, atau “adakah perbedaan” dapat digunakan sesuai dengan jenis penelitian. Namun, pemilihan kata harus disesuaikan dengan maksud penelitian. Kata “pengaruh”, misalnya, memiliki konsekuensi metodologis tertentu sehingga tidak sebaiknya digunakan hanya karena terdengar lebih ilmiah.

Keselarasan antara rumusan masalah dan metode menjadi hal yang sangat penting. Jika peneliti ingin mengetahui hubungan dua variabel, maka rumusan masalah harus diarahkan pada hubungan tersebut. Jika penelitian bertujuan mengetahui perbedaan hasil antara dua kelompok, pertanyaan penelitian perlu menunjukkan perbandingan tersebut. Dengan cara ini, rumusan masalah dapat menjadi penghubung antara permasalahan yang ditemukan dengan proses analisis data.

Contoh Penerapan Rumusan Masalah dalam Penelitian Kuantitatif

Penerapan rumusan masalah dapat lebih mudah dipahami melalui contoh. Misalnya, seorang mahasiswa menemukan fenomena bahwa sebagian siswa mengalami penurunan motivasi belajar ketika proses pembelajaran menggunakan metode yang monoton. Topik awalnya adalah motivasi belajar siswa. Topik tersebut masih terlalu luas sehingga perlu dikembangkan berdasarkan fenomena, teori, dan variabel yang dapat diukur.

Peneliti kemudian menentukan penggunaan media pembelajaran digital sebagai variabel bebas dan motivasi belajar sebagai variabel terikat. Berdasarkan pilihan tersebut, peneliti dapat menyusun rumusan masalah yang lebih spesifik. Pertanyaan penelitian dapat diarahkan untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara penggunaan media pembelajaran digital dengan motivasi belajar siswa. Jika desain penelitian memang mendukung analisis hubungan, rumusan tersebut menjadi lebih sesuai dibandingkan pertanyaan yang masih bersifat umum.

Contoh lain dapat ditemukan pada penelitian mengenai penggunaan media sosial dan produktivitas belajar mahasiswa. Topik tersebut juga masih luas karena penggunaan media sosial memiliki berbagai bentuk dan produktivitas belajar dapat diukur melalui banyak indikator. Peneliti perlu menentukan batasan seperti jenis penggunaan media sosial, karakteristik responden, dan indikator produktivitas belajar sebelum menyusun rumusan masalah.

Dari contoh tersebut dapat dipahami bahwa kendala menyusun rumusan masalah dalam penelitian kuantitatif sering kali berasal dari proses penyempitan masalah. Peneliti perlu bergerak dari topik umum menuju fenomena yang lebih spesifik, kemudian menentukan variabel, dasar teori, dan bentuk hubungan yang ingin dikaji. Proses tersebut membuat pertanyaan penelitian menjadi lebih mudah diukur dan dianalisis.

Rumusan masalah yang telah dibuat juga sebaiknya diperiksa kembali sebelum dimasukkan ke proposal. Peneliti dapat melihat apakah setiap pertanyaan memiliki jawaban yang dapat diperoleh dari data penelitian. Jika jawabannya tidak tersedia, rumusan tersebut perlu diperbaiki. Pemeriksaan ini penting agar penelitian tidak mengalami perubahan besar ketika sudah memasuki tahap pengumpulan data.

Baca Juga: Checklist Rumusan Masalah sebelum Diajukan kepada Dosen Pembimbing

Kesimpulan

Kendala menyusun rumusan masalah dalam penelitian kuantitatif dapat muncul karena berbagai faktor, mulai dari topik yang terlalu luas, kesulitan menentukan variabel, kurangnya pemahaman terhadap teori, hingga ketidaksesuaian antara rumusan masalah dan metode penelitian. Rumusan masalah bukan sekadar kumpulan pertanyaan, melainkan bagian yang menentukan arah keseluruhan penelitian. Karena itu, proses penyusunannya perlu dilakukan dengan mempertimbangkan latar belakang, teori, penelitian terdahulu, variabel, data, dan desain penelitian.

Cara mengatasi kendala tersebut dapat dilakukan dengan mempersempit topik, mengidentifikasi masalah utama, menentukan variabel yang dapat diukur, membaca penelitian terdahulu, serta memeriksa kesesuaian antara rumusan masalah dan tujuan penelitian. Peneliti juga perlu memastikan bahwa setiap pertanyaan dapat dijawab secara empiris melalui data yang tersedia. Semakin jelas rumusan masalah yang dibuat, semakin terarah pula proses penelitian dari tahap penyusunan proposal hingga analisis dan kesimpulan.

Pada akhirnya, kemampuan menyusun rumusan masalah merupakan bagian penting dalam keterampilan penelitian kuantitatif. Mahasiswa tidak perlu terburu-buru menghasilkan rumusan masalah hanya berdasarkan judul penelitian. Proses yang lebih baik adalah memahami masalah terlebih dahulu, menemukan fokus, menentukan variabel, mengkaji teori, kemudian merumuskan pertanyaan penelitian secara sistematis. Dengan langkah tersebut, berbagai kendala menyusun rumusan masalah dalam penelitian kuantitatif dapat dikurangi dan penelitian dapat berjalan lebih terarah. Untuk kebutuhan informasi dan pendampingan terkait persiapan akademik, mahasiswa juga dapat mengenal Klik Wisuda sebagai salah satu sumber yang berkaitan dengan kebutuhan mahasiswa. Jika kamu membutuhkan bantuan dalam proses revisi, pengecekan tata bahasa akademik, proofreading, atau pendampingan penyusunan skripsi, Hubungi Admin Klik Wisuda