Dalam setiap penelitian, keberadaan masalah menjadi titik awal yang menentukan arah pembahasan. Peneliti biasanya menemukan berbagai fenomena, kesenjangan, kendala, atau kondisi tertentu yang menarik untuk dikaji lebih lanjut. Namun, masalah yang ditemukan di lapangan belum tentu dapat langsung dijadikan sebagai pertanyaan penelitian. Masalah tersebut perlu diolah terlebih dahulu agar menjadi fokus yang jelas, terarah, dan dapat diteliti. Salah satu tahap penting dalam proses tersebut adalah membuat rumusan masalah penelitian.
Rumusan masalah penelitian berfungsi sebagai dasar untuk menentukan tujuan penelitian, memilih metode yang sesuai, mengumpulkan data, hingga menyusun kesimpulan. Rumusan masalah yang terlalu luas dapat membuat penelitian sulit dikendalikan, sedangkan rumusan masalah yang terlalu sempit dapat membatasi informasi yang sebenarnya penting untuk dikaji. Oleh karena itu, peneliti perlu memahami cara mengubah masalah yang ditemukan menjadi rumusan masalah yang dapat dijawab melalui proses penelitian.
Dalam praktiknya, masih banyak mahasiswa yang mengalami kesulitan ketika menyusun rumusan masalah penelitian. Kesulitan tersebut sering muncul karena peneliti belum mampu membedakan antara fenomena, masalah penelitian, latar belakang, dan rumusan masalah. Ada pula yang langsung membuat pertanyaan penelitian tanpa terlebih dahulu mengidentifikasi masalah secara mendalam. Akibatnya, rumusan masalah yang dibuat tidak selalu memiliki hubungan yang kuat dengan kondisi yang dijelaskan dalam latar belakang.
Artikel ini membahas cara membuat rumusan masalah penelitian berdasarkan masalah yang ditemukan, mulai dari memahami masalah penelitian, mengidentifikasi fenomena yang relevan, mempersempit fokus penelitian, hingga mengubah masalah menjadi pertanyaan penelitian. Pemahaman tersebut dapat membantu mahasiswa menyusun penelitian yang lebih sistematis dan memiliki arah pembahasan yang jelas. Bagi mahasiswa yang sedang mempersiapkan tugas akhir, skripsi, atau penelitian akademik lainnya, kemampuan menyusun rumusan masalah penelitian menjadi salah satu bagian yang perlu dikuasai sejak awal.

Memahami Hubungan antara Masalah dan Rumusan Masalah Penelitian
Masalah penelitian merupakan kondisi, fenomena, kesenjangan, atau persoalan yang menunjukkan adanya sesuatu yang perlu diketahui, dijelaskan, atau dianalisis melalui penelitian. Masalah dapat ditemukan melalui pengamatan langsung, pengalaman di lapangan, hasil penelitian sebelumnya, data statistik, wawancara, maupun kajian terhadap teori. Dengan demikian, masalah penelitian tidak selalu berarti sesuatu yang sepenuhnya negatif. Sebuah kondisi yang menimbulkan pertanyaan atau membutuhkan penjelasan ilmiah juga dapat menjadi dasar penelitian.
Sebelum membuat rumusan masalah penelitian, peneliti perlu memahami terlebih dahulu masalah yang ingin dikaji. Misalnya, seorang mahasiswa menemukan bahwa tingkat keaktifan siswa dalam pembelajaran mengalami perbedaan antara satu kelas dan kelas lainnya. Temuan tersebut belum dapat langsung ditulis sebagai rumusan masalah. Peneliti perlu mencari tahu apa yang menyebabkan perbedaan tersebut, apakah berkaitan dengan metode pembelajaran, lingkungan belajar, penggunaan media, karakteristik siswa, atau faktor lainnya. Proses tersebut membantu peneliti menemukan fokus yang lebih spesifik.
Hubungan antara masalah dan rumusan masalah penelitian dapat dipahami sebagai hubungan antara persoalan dengan pertanyaan yang ingin dijawab. Masalah menunjukkan kondisi yang menjadi perhatian peneliti, sedangkan rumusan masalah mengubah kondisi tersebut menjadi pertanyaan penelitian yang dapat dikaji secara ilmiah. Karena itu, rumusan masalah seharusnya tidak muncul secara tiba-tiba. Rumusan masalah perlu memiliki dasar yang jelas dari masalah yang telah ditemukan dan dijelaskan dalam latar belakang penelitian.
Sebagai contoh, peneliti menemukan fenomena rendahnya minat baca siswa di sebuah sekolah. Pernyataan “minat baca siswa rendah” masih berupa gambaran masalah. Setelah dilakukan identifikasi lebih lanjut, peneliti dapat menemukan beberapa kemungkinan aspek yang berkaitan, seperti ketersediaan bahan bacaan, kebiasaan membaca, lingkungan belajar, atau pemanfaatan perpustakaan. Dari sini, peneliti dapat menentukan fokus tertentu dan mengubahnya menjadi pertanyaan penelitian. Misalnya, penelitian dapat diarahkan untuk mengetahui hubungan antara pemanfaatan perpustakaan dengan minat baca siswa.
Pemahaman terhadap hubungan tersebut penting karena rumusan masalah penelitian akan memengaruhi keseluruhan proses penelitian. Jika masalah yang dipilih tidak jelas, pertanyaan penelitian juga cenderung tidak terarah. Sebaliknya, ketika masalah telah diidentifikasi dengan baik, peneliti akan lebih mudah menentukan variabel, subjek penelitian, sumber data, metode pengumpulan data, dan teknik analisis yang sesuai. Oleh sebab itu, langkah pertama dalam membuat rumusan masalah penelitian adalah memahami masalah yang sebenarnya ingin dijawab melalui penelitian.
Baca Juga: Pendampingan Skripsi Online untuk Mengatasi Kesulitan Menyusun Bab Skripsi
Mengidentifikasi Masalah yang Ditemukan Sebelum Menyusun Rumusan Masalah
Identifikasi masalah merupakan tahap untuk menguraikan kondisi yang ditemukan menjadi beberapa persoalan yang lebih jelas. Pada tahap ini, peneliti tidak perlu langsung menentukan kalimat rumusan masalah. Peneliti justru perlu mengumpulkan informasi sebanyak mungkin mengenai fenomena yang diamati. Tujuannya adalah memperoleh gambaran mengenai apa yang terjadi, siapa yang mengalami masalah, di mana masalah tersebut terjadi, kapan kondisi tersebut muncul, dan faktor apa saja yang mungkin berhubungan dengan masalah tersebut.
Salah satu cara yang dapat digunakan adalah membandingkan kondisi ideal dengan kondisi aktual. Kondisi ideal dapat diperoleh dari teori, standar tertentu, kebijakan, tujuan pembelajaran, atau hasil yang diharapkan. Sementara itu, kondisi aktual menunjukkan keadaan yang benar-benar terjadi di lapangan. Ketika terdapat perbedaan antara kondisi ideal dan kondisi aktual, perbedaan tersebut dapat menjadi dasar untuk menemukan masalah penelitian. Semakin jelas kesenjangan yang ditemukan, semakin mudah peneliti menentukan fokus penelitian.
Contohnya, dalam pembelajaran di sekolah, kondisi idealnya adalah siswa dapat mengikuti proses pembelajaran secara aktif dan memahami materi yang diberikan. Namun, hasil pengamatan menunjukkan bahwa sebagian siswa cenderung pasif dan mengalami kesulitan memahami materi tertentu. Kondisi tersebut dapat menjadi masalah yang menarik untuk diteliti. Akan tetapi, peneliti masih perlu melakukan identifikasi lebih lanjut untuk mengetahui apakah persoalan tersebut berkaitan dengan metode mengajar, media pembelajaran, motivasi siswa, lingkungan kelas, atau faktor lainnya.
Identifikasi masalah juga dapat dilakukan dengan membaca penelitian terdahulu. Penelitian terdahulu membantu peneliti mengetahui persoalan apa yang telah diteliti dan bagian mana yang masih dapat dikembangkan. Dari hasil kajian tersebut, peneliti dapat menemukan perbedaan hasil penelitian, keterbatasan penelitian sebelumnya, objek yang belum diteliti, atau konteks yang berbeda. Temuan tersebut dapat menjadi dasar untuk memperkuat alasan mengapa suatu masalah layak dijadikan bahan penelitian. Dengan demikian, rumusan masalah penelitian tidak hanya berdasarkan asumsi pribadi, tetapi memiliki landasan akademik yang lebih kuat.
Setelah berbagai masalah berhasil diidentifikasi, peneliti perlu menentukan masalah utama yang paling relevan dengan tujuan penelitian. Tidak semua masalah yang ditemukan harus dimasukkan ke dalam satu penelitian. Terlalu banyak masalah justru dapat membuat penelitian menjadi luas dan sulit diselesaikan. Peneliti perlu memilih masalah berdasarkan tingkat relevansi, ketersediaan data, keterbatasan waktu, kemampuan peneliti, karakteristik objek penelitian, serta kontribusi yang dapat diberikan. Dari proses penyaringan inilah fokus penelitian mulai terbentuk dan selanjutnya dapat dikembangkan menjadi rumusan masalah penelitian.
Pada tahap identifikasi, peneliti juga perlu berhati-hati agar tidak mencampurkan fakta dengan dugaan. Misalnya, ketika melihat nilai siswa rendah, peneliti tidak boleh langsung menyimpulkan bahwa penyebabnya adalah kurangnya motivasi belajar. Rendahnya nilai merupakan fakta yang dapat diamati, sedangkan motivasi sebagai penyebab masih merupakan dugaan yang perlu dibuktikan. Perbedaan antara fakta dan dugaan sangat penting karena penelitian bertujuan menghasilkan jawaban berdasarkan data, bukan sekadar memperkuat asumsi yang sudah dimiliki peneliti.
Dengan demikian, proses identifikasi masalah menjadi jembatan antara fenomena yang ditemukan dan rumusan masalah penelitian yang akan dibuat. Semakin teliti proses identifikasi dilakukan, semakin besar kemungkinan peneliti menghasilkan pertanyaan penelitian yang spesifik dan dapat dijawab. Setelah masalah utama ditemukan, langkah berikutnya adalah mempersempit ruang lingkupnya agar penelitian tidak berkembang ke terlalu banyak arah. Pembatasan tersebut menjadi bagian penting sebelum peneliti menyusun rumusan masalah secara final.
Mengubah Masalah yang Ditemukan Menjadi Rumusan Masalah Penelitian
Setelah masalah utama berhasil diidentifikasi dan dipersempit, tahap berikutnya adalah mengubah masalah tersebut menjadi pertanyaan penelitian. Rumusan masalah penelitian pada dasarnya harus menggambarkan sesuatu yang ingin diketahui, dijelaskan, dibandingkan, dianalisis, atau diuji melalui proses penelitian. Karena itu, kalimat yang digunakan sebaiknya tidak hanya menyatakan bahwa suatu masalah terjadi, tetapi menunjukkan informasi apa yang ingin diperoleh peneliti dari masalah tersebut.
Cara sederhana untuk memulai adalah menggunakan kata tanya yang sesuai dengan tujuan penelitian. Kata “apa” dapat digunakan ketika peneliti ingin mengidentifikasi atau menggambarkan suatu kondisi. Kata “bagaimana” dapat digunakan untuk mengetahui proses, penerapan, atau kondisi tertentu secara lebih mendalam. Kata “mengapa” dapat digunakan ketika penelitian diarahkan untuk memahami alasan atau faktor yang berkaitan dengan suatu fenomena. Sementara itu, penelitian kuantitatif sering menggunakan pertanyaan yang berkaitan dengan hubungan, pengaruh, perbedaan, atau kontribusi antarvariabel.
Sebagai contoh, peneliti menemukan masalah berupa rendahnya motivasi belajar siswa. Pernyataan tersebut belum menjadi rumusan masalah penelitian yang lengkap. Peneliti perlu menentukan aspek yang ingin dikaji. Apabila ingin mengetahui hubungan penggunaan media pembelajaran dengan motivasi belajar, rumusan masalah dapat diarahkan menjadi pertanyaan mengenai hubungan kedua variabel tersebut. Jika penelitian bertujuan mengetahui faktor yang memengaruhi motivasi belajar, maka pertanyaannya perlu disusun berdasarkan faktor-faktor yang akan dianalisis.
Dalam penelitian kualitatif, rumusan masalah dapat diarahkan pada proses, pengalaman, makna, atau kondisi yang dialami subjek penelitian. Misalnya, apabila peneliti menemukan fenomena siswa mengalami kesulitan beradaptasi dengan pembelajaran berbasis teknologi, penelitian dapat diarahkan untuk mengetahui bagaimana pengalaman siswa dalam mengikuti pembelajaran tersebut. Sementara itu, dalam penelitian kuantitatif, masalah yang sama dapat diterjemahkan menjadi variabel yang dapat diukur, misalnya hubungan intensitas penggunaan teknologi pembelajaran dengan tingkat adaptasi siswa.
Agar rumusan masalah penelitian tetap fokus, peneliti perlu memastikan bahwa setiap pertanyaan memiliki hubungan langsung dengan masalah yang ditemukan. Jangan memasukkan pertanyaan yang tidak dijelaskan dalam latar belakang atau tidak berkaitan dengan tujuan penelitian. Rumusan masalah juga sebaiknya tidak terlalu banyak karena setiap pertanyaan membutuhkan data dan analisis. Semakin banyak pertanyaan yang dibuat, semakin luas pula ruang lingkup penelitian. Oleh sebab itu, jumlah rumusan masalah perlu disesuaikan dengan kemampuan peneliti dan kedalaman penelitian yang direncanakan.
Beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mengubah masalah menjadi rumusan masalah penelitian adalah:
- Menuliskan fenomena yang ditemukan secara faktual.
- Menentukan masalah utama yang paling relevan.
- Mengidentifikasi aspek atau variabel yang berkaitan dengan masalah.
- Menentukan subjek atau objek yang akan diteliti.
- Menentukan lokasi atau konteks penelitian jika diperlukan.
- Memilih kata tanya yang sesuai dengan tujuan penelitian.
- Mengubah pernyataan masalah menjadi pertanyaan yang dapat dijawab melalui data.
- Memeriksa kembali kesesuaian rumusan masalah dengan latar belakang dan tujuan penelitian.
Misalnya, seorang mahasiswa menemukan bahwa penggunaan media pembelajaran digital di sebuah sekolah cukup tinggi, tetapi belum diketahui apakah penggunaan tersebut berkaitan dengan keterlibatan siswa selama pembelajaran. Dari fenomena tersebut, masalah penelitian dapat diarahkan pada hubungan antara penggunaan media pembelajaran digital dan keterlibatan siswa. Rumusan masalah kemudian dapat dibuat menjadi pertanyaan: “Apakah terdapat hubungan antara penggunaan media pembelajaran digital dengan keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran?” Pertanyaan tersebut lebih terarah karena menunjukkan variabel dan hubungan yang akan dikaji.
Pada penelitian lain, masalah yang ditemukan dapat berupa rendahnya partisipasi siswa dalam kegiatan diskusi. Setelah dilakukan identifikasi, peneliti ingin mengetahui bagaimana guru menerapkan metode pembelajaran tertentu untuk meningkatkan partisipasi siswa. Rumusan masalah dapat diarahkan pada pertanyaan tentang bagaimana penerapan metode tersebut dan bagaimana siswa merespons proses pembelajaran. Contoh tersebut menunjukkan bahwa satu fenomena dapat menghasilkan rumusan masalah yang berbeda bergantung pada tujuan, pendekatan, dan fokus penelitian.
Menentukan Rumusan Masalah Penelitian yang Jelas dan Dapat Diteliti
Rumusan masalah penelitian yang baik perlu memenuhi beberapa karakteristik agar dapat digunakan sebagai dasar penelitian. Salah satu karakteristik utamanya adalah kejelasan. Pertanyaan penelitian harus mudah dipahami dan tidak menimbulkan terlalu banyak interpretasi. Penggunaan istilah yang terlalu umum dapat membuat fokus penelitian menjadi kabur. Sebaliknya, istilah yang spesifik membantu peneliti menentukan data apa yang harus dikumpulkan dan bagaimana data tersebut akan dianalisis.
Karakteristik berikutnya adalah keterukuran atau keterjawaban melalui data. Rumusan masalah tidak seharusnya hanya menghasilkan pertanyaan yang bersifat pendapat pribadi. Pertanyaan harus memungkinkan peneliti memperoleh jawaban melalui observasi, wawancara, kuesioner, dokumentasi, eksperimen, tes, atau teknik pengumpulan data lainnya. Dalam penelitian kuantitatif, keterukuran menjadi semakin penting karena konsep yang digunakan biasanya perlu diterjemahkan ke dalam variabel dan indikator.
Selain jelas dan dapat diteliti, rumusan masalah perlu memiliki batasan yang sesuai. Batasan dapat mencakup subjek, lokasi, waktu, variabel, aspek yang dikaji, atau karakteristik tertentu dari objek penelitian. Batasan tersebut membantu penelitian tetap berada dalam ruang lingkup yang realistis. Misalnya, daripada meneliti “pengaruh teknologi terhadap pendidikan” yang terlalu luas, peneliti dapat mempersempitnya menjadi “pengaruh penggunaan platform pembelajaran digital terhadap hasil belajar siswa kelas XI pada mata pelajaran tertentu.”
Beberapa kriteria yang dapat digunakan untuk memeriksa rumusan masalah penelitian antara lain:
- Memiliki hubungan dengan masalah yang ditemukan.
- Sesuai dengan latar belakang penelitian.
- Menggambarkan fokus penelitian secara jelas.
- Dapat dijawab melalui data yang tersedia.
- Memiliki objek atau subjek yang jelas.
- Sesuai dengan metode penelitian yang dipilih.
- Tidak memiliki cakupan yang terlalu luas.
- Tidak mengandung pertanyaan yang tidak diperlukan.
- Memiliki hubungan dengan tujuan penelitian.
- Memungkinkan peneliti menarik kesimpulan berdasarkan hasil penelitian.
Selain itu, peneliti perlu memeriksa kesesuaian antara rumusan masalah dan tujuan penelitian. Jika rumusan masalah menanyakan hubungan antara dua variabel, tujuan penelitian juga harus diarahkan untuk mengetahui hubungan tersebut. Jika rumusan masalah menanyakan bagaimana suatu proses berlangsung, tujuan penelitian perlu menjelaskan keinginan untuk mendeskripsikan atau memahami proses tersebut. Kesesuaian ini akan membuat struktur penelitian menjadi lebih konsisten dari awal hingga akhir.
Kesalahan yang cukup sering terjadi adalah membuat rumusan masalah berdasarkan topik, bukan berdasarkan masalah. Topik seperti “teknologi dalam pendidikan” masih terlalu luas untuk menjadi rumusan masalah. Topik tersebut harus dikembangkan menjadi persoalan tertentu yang dapat diteliti. Misalnya, peneliti dapat memusatkan perhatian pada penggunaan teknologi tertentu, kelompok siswa tertentu, aspek pembelajaran tertentu, atau hubungan antara penggunaan teknologi dengan hasil belajar.
Kesalahan lain adalah membuat rumusan masalah yang sebenarnya sudah mengandung jawaban. Pertanyaan seperti “Apakah metode pembelajaran inovatif dapat meningkatkan hasil belajar siswa secara efektif?” dapat menjadi kurang tepat jika istilah “secara efektif” belum memiliki ukuran yang jelas. Peneliti sebaiknya menentukan indikator efektivitas terlebih dahulu. Dengan demikian, pertanyaan penelitian dapat dijawab menggunakan data yang memiliki dasar pengukuran yang jelas.
Peneliti juga perlu menghindari rumusan masalah yang terlalu normatif. Pernyataan seperti “Bagaimana cara membuat pendidikan menjadi lebih baik?” memiliki cakupan yang sangat luas dan sulit diteliti dalam satu penelitian. Rumusan tersebut perlu dipersempit berdasarkan masalah yang benar-benar ditemukan. Dengan membatasi konteks, subjek, variabel, dan tujuan penelitian, pertanyaan dapat menjadi lebih operasional dan realistis.
Menyelaraskan Rumusan Masalah dengan Latar Belakang, Tujuan, dan Metode Penelitian
Rumusan masalah penelitian tidak berdiri sendiri. Bagian ini harus memiliki hubungan yang logis dengan latar belakang penelitian. Latar belakang menjelaskan fenomena dan alasan mengapa masalah tersebut penting dikaji, sedangkan rumusan masalah merangkum persoalan tersebut dalam bentuk pertanyaan yang akan dijawab. Oleh karena itu, pembaca seharusnya dapat melihat alur yang jelas dari fenomena, masalah, fokus penelitian, hingga pertanyaan penelitian.
Setelah rumusan masalah dibuat, peneliti perlu mengecek kembali kesesuaiannya dengan tujuan dan metode penelitian. Setiap pertanyaan harus memiliki tujuan yang sesuai dan dapat dijawab menggunakan metode yang dipilih. Jika rumusan masalah menanyakan pengaruh, misalnya, peneliti perlu mempertimbangkan desain penelitian dan teknik analisis yang memungkinkan pengujian pengaruh tersebut. Jika rumusan masalah berfokus pada pengalaman atau proses, pendekatan yang digunakan harus mampu menggali informasi tersebut secara mendalam.
Penyelarasan tersebut akan membantu penelitian berjalan lebih terarah dan mengurangi kemungkinan perubahan besar ketika penelitian sudah berlangsung. Bagi mahasiswa yang sedang menyusun skripsi, proses pemeriksaan ini juga dapat dilakukan sebelum mengajukan proposal kepada dosen pembimbing. Untuk memperoleh bantuan dalam persiapan tugas akhir, mahasiswa dapat memanfaatkan layanan pendampingan akademik seperti Klik Wisuda sesuai kebutuhan dan ketentuan yang berlaku.
Baca Juga: Rumusan Masalah Penelitian dan Cara Mengubah Masalah Menjadi Pertanyaan Penelitian
Kesimpulan
Cara membuat rumusan masalah penelitian berdasarkan masalah yang ditemukan dimulai dari memahami fenomena, mengidentifikasi kesenjangan, menentukan masalah utama, mempersempit fokus, kemudian mengubahnya menjadi pertanyaan penelitian yang jelas dan dapat dijawab melalui data. Rumusan masalah bukan sekadar kalimat tanya, melainkan bagian yang menentukan arah penelitian secara keseluruhan. Karena itu, penyusunannya perlu dilakukan secara sistematis dan berdasarkan masalah yang benar-benar ditemukan.
Rumusan masalah penelitian yang baik harus memiliki hubungan dengan latar belakang, tujuan penelitian, objek atau subjek penelitian, serta metode yang digunakan. Peneliti juga perlu memastikan bahwa pertanyaan yang dibuat tidak terlalu luas, tidak mengandung asumsi yang belum dibuktikan, dan dapat dijawab melalui proses pengumpulan serta analisis data. Pemeriksaan kembali terhadap setiap unsur tersebut dapat membantu menghasilkan penelitian yang lebih konsisten.
Pada akhirnya, kemampuan menyusun rumusan masalah penelitian merupakan keterampilan penting bagi mahasiswa dan peneliti. Masalah yang awalnya hanya berupa fenomena di lapangan dapat berkembang menjadi pertanyaan ilmiah apabila dianalisis secara sistematis. Dengan rumusan masalah yang tepat, proses penelitian menjadi lebih terarah mulai dari penyusunan tujuan, pemilihan metode, pengumpulan data, analisis hasil, hingga penarikan kesimpulan. Jika kamu membutuhkan bantuan dalam proses revisi, pengecekan tata bahasa akademik, proofreading, atau pendampingan penyusunan skripsi, Hubungi Admin Klik Wisuda

