Menentukan rumusan masalah penelitian sering kali menjadi salah satu tahap yang cukup menantang bagi mahasiswa. Peneliti tidak hanya perlu menemukan topik yang menarik, tetapi juga harus mampu menunjukkan alasan mengapa topik tersebut layak diteliti. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah berangkat dari research gap atau kesenjangan penelitian.
Research gap menunjukkan adanya bagian yang belum terjawab, belum diteliti secara mendalam, atau masih menghasilkan temuan yang berbeda dalam penelitian sebelumnya. Kesenjangan tersebut kemudian dapat dikembangkan menjadi pertanyaan penelitian yang lebih spesifik. Dengan demikian, research gap dan rumusan masalah memiliki hubungan yang sangat erat dalam membangun dasar penelitian.
Cara mengubah research gap menjadi rumusan masalah penelitian membutuhkan proses yang sistematis. Peneliti perlu membaca penelitian terdahulu, mengidentifikasi bagian yang masih belum jelas, menentukan fokus penelitian, kemudian menyusunnya dalam bentuk pertanyaan yang dapat dijawab melalui pengumpulan dan analisis data.

Memahami Research Gap dalam Penelitian
Research gap merupakan kesenjangan pengetahuan yang ditemukan berdasarkan kajian terhadap penelitian terdahulu. Kesenjangan ini dapat muncul karena hasil penelitian yang berbeda, variabel tertentu belum dikaji, objek penelitian masih terbatas, teori belum diterapkan pada konteks tertentu, atau terdapat fenomena yang belum mendapatkan penjelasan memadai.
Dalam proses penelitian, research gap bukan sekadar pernyataan bahwa “belum ada penelitian”. Pernyataan tersebut perlu didukung oleh pembacaan terhadap sejumlah penelitian yang relevan. Peneliti perlu memahami apa yang sudah diketahui, bagaimana penelitian sebelumnya dilakukan, serta bagian mana yang masih menyisakan pertanyaan. Dari proses tersebut, peneliti dapat menemukan dasar yang lebih kuat untuk menentukan fokus penelitian.
Research gap juga dapat muncul ketika penelitian terdahulu memberikan hasil yang tidak konsisten. Misalnya, beberapa penelitian menunjukkan bahwa penggunaan teknologi pembelajaran dapat meningkatkan hasil belajar, sementara penelitian lain menemukan bahwa pengaruhnya tidak selalu signifikan. Perbedaan tersebut dapat menjadi dasar untuk mengkaji faktor yang menyebabkan perbedaan hasil. Peneliti kemudian dapat mempersempit pertanyaan berdasarkan variabel, karakteristik responden, metode, atau konteks tertentu.
Selain perbedaan hasil, research gap dapat ditemukan melalui keterbatasan penelitian terdahulu. Sebuah penelitian mungkin hanya dilakukan pada mahasiswa di perguruan tinggi tertentu, sementara konteks serupa belum dikaji pada siswa sekolah menengah. Kondisi tersebut tidak otomatis berarti penelitian baru pasti penting, tetapi dapat menjadi titik awal untuk mempertimbangkan apakah terdapat kebutuhan ilmiah untuk menguji fenomena tersebut pada konteks berbeda.
Oleh karena itu, memahami research gap menjadi langkah penting sebelum menyusun rumusan masalah penelitian. Semakin jelas kesenjangan yang ditemukan, semakin mudah peneliti menentukan pertanyaan yang ingin dijawab. Rumusan masalah kemudian berfungsi sebagai bentuk konkret dari persoalan penelitian yang sebelumnya masih berada pada tahap identifikasi gap.
Baca Juga: Pendampingan Skripsi Online untuk Mengatasi Kesulitan Menyusun Bab Skripsi
Hubungan Research Gap dengan Rumusan Masalah Penelitian
Research gap dan rumusan masalah penelitian memiliki fungsi yang berbeda, tetapi saling berkaitan. Research gap menjelaskan kesenjangan atau persoalan yang ditemukan dalam pengetahuan yang sudah tersedia, sedangkan rumusan masalah mengubah kesenjangan tersebut menjadi pertanyaan yang dapat diteliti. Dengan kata lain, research gap menjadi salah satu dasar dalam membentuk rumusan masalah.
Sebagai contoh, peneliti menemukan bahwa penelitian tentang penggunaan media pembelajaran digital telah banyak dilakukan. Namun, sebagian besar penelitian tersebut berfokus pada efektivitas media digital terhadap hasil belajar dan belum banyak membahas bagaimana kesiapan guru memengaruhi keberhasilan penerapannya. Dalam kondisi tersebut, gap dapat diarahkan menjadi pertanyaan mengenai hubungan atau pengaruh kesiapan guru terhadap efektivitas penggunaan media pembelajaran digital.
Proses tersebut menunjukkan bahwa rumusan masalah tidak sebaiknya dibuat hanya berdasarkan topik umum. Topik seperti “teknologi dalam pendidikan” masih terlalu luas untuk menjadi rumusan masalah penelitian. Peneliti perlu mengetahui bagian spesifik dari topik tersebut yang memiliki persoalan atau kesenjangan. Setelah itu, pertanyaan penelitian dapat diarahkan agar mampu menjawab gap yang telah ditemukan.
Rumusan masalah yang baik juga harus sesuai dengan jenis penelitian yang akan digunakan. Penelitian kuantitatif biasanya membutuhkan pertanyaan yang berkaitan dengan hubungan, pengaruh, perbedaan, atau tingkat suatu variabel. Sementara itu, penelitian kualitatif dapat menggunakan pertanyaan yang mengeksplorasi pengalaman, proses, persepsi, strategi, atau makna suatu fenomena. Karena itu, bentuk research gap perlu disesuaikan dengan pendekatan penelitian.
Hubungan antara research gap dan rumusan masalah dapat digambarkan sebagai alur berpikir: penelitian terdahulu → temuan yang sudah tersedia → kesenjangan → fokus penelitian → rumusan masalah → tujuan penelitian → metode penelitian. Alur tersebut membantu peneliti menjaga konsistensi antara latar belakang dan bagian-bagian penelitian berikutnya. Jika research gap dirumuskan dengan jelas, penyusunan rumusan masalah akan menjadi lebih terarah dan tidak keluar dari fokus penelitian.
Langkah Mengubah Research Gap Menjadi Rumusan Masalah Penelitian
Setelah memahami hubungan antara research gap dan rumusan masalah penelitian, langkah berikutnya adalah mengubah kesenjangan tersebut menjadi pertanyaan yang lebih operasional. Proses ini perlu dilakukan secara bertahap agar rumusan masalah tidak terlalu umum, terlalu luas, atau sulit dijawab melalui penelitian.
1. Identifikasi hasil penelitian terdahulu
Langkah pertama adalah mengumpulkan penelitian yang relevan dengan topik. Peneliti dapat membaca artikel jurnal, skripsi, tesis, disertasi, prosiding, atau sumber akademik lain yang kredibel. Fokus pembacaan bukan hanya pada kesimpulan penelitian, tetapi juga metode, objek, variabel, keterbatasan, dan rekomendasi penelitian selanjutnya.
Dari tahap ini, peneliti dapat membuat catatan mengenai:
- Topik yang sudah banyak diteliti.
- Variabel yang sering digunakan.
- Objek atau populasi yang sudah diteliti.
- Metode penelitian yang digunakan.
- Hasil penelitian yang konsisten.
- Hasil penelitian yang berbeda.
- Keterbatasan penelitian terdahulu.
- Rekomendasi penelitian lanjutan.
Catatan tersebut membantu peneliti melihat pola penelitian yang sudah ada. Research gap biasanya lebih mudah ditemukan ketika penelitian terdahulu dibandingkan secara sistematis daripada dibaca secara terpisah.
2. Kelompokkan jenis research gap
Tidak semua kesenjangan penelitian memiliki bentuk yang sama. Peneliti perlu menentukan jenis gap yang ditemukan agar dapat memilih arah rumusan masalah secara tepat.
Beberapa jenis research gap yang umum antara lain:
- Gap hasil penelitian, yaitu adanya perbedaan hasil antara penelitian terdahulu.
- Gap teori, yaitu adanya keterbatasan atau ruang pengembangan dalam penerapan teori.
- Gap metodologi, yaitu adanya keterbatasan pendekatan atau metode yang digunakan.
- Gap populasi, yaitu kelompok tertentu yang belum banyak diteliti.
- Gap konteks, yaitu fenomena yang belum dikaji pada lingkungan atau kondisi tertentu.
- Gap variabel, yaitu hubungan antara variabel tertentu yang belum mendapatkan perhatian memadai.
- Gap pengetahuan, yaitu aspek tertentu yang masih belum memiliki penjelasan yang cukup.
Mengidentifikasi jenis gap membantu peneliti menentukan pertanyaan penelitian yang lebih spesifik.
3. Tentukan fokus yang paling relevan
Research gap yang ditemukan dalam literatur dapat berjumlah lebih dari satu. Namun, peneliti tidak harus memasukkan seluruh gap ke dalam satu penelitian. Pilih kesenjangan yang paling relevan dengan tujuan, kemampuan, sumber daya, waktu, dan bidang kajian.
Fokus penelitian sebaiknya cukup sempit agar dapat dikaji secara mendalam. Misalnya, daripada meneliti “pengaruh teknologi terhadap pendidikan”, peneliti dapat mempersempitnya menjadi “penggunaan platform pembelajaran digital terhadap keterlibatan siswa dalam pembelajaran matematika”. Penyempitan tersebut membuat rumusan masalah menjadi lebih jelas.
4. Ubah pernyataan gap menjadi pertanyaan
Setelah fokus ditentukan, ubah pernyataan research gap menjadi pertanyaan penelitian. Misalnya:
“Penelitian terdahulu belum banyak menjelaskan faktor yang memengaruhi keterlibatan siswa dalam penggunaan platform pembelajaran digital.”
Pernyataan tersebut dapat dikembangkan menjadi:
“Bagaimana faktor yang memengaruhi keterlibatan siswa dalam penggunaan platform pembelajaran digital?”
Untuk penelitian kuantitatif, pertanyaan dapat dibuat lebih spesifik, misalnya:
“Apakah intensitas penggunaan platform pembelajaran digital berpengaruh terhadap keterlibatan siswa dalam pembelajaran?”
Perubahan tersebut membuat gap yang sebelumnya berbentuk pernyataan menjadi persoalan yang dapat diteliti.
5. Periksa keterukuran dan keterjawaban rumusan masalah
Rumusan masalah harus dapat dijawab berdasarkan data yang dapat diperoleh. Peneliti perlu memastikan bahwa variabel, subjek, lokasi, waktu, dan metode penelitian memungkinkan pertanyaan tersebut dikaji.
Rumusan masalah yang terlalu luas dapat menyebabkan penelitian kehilangan arah. Sebaliknya, rumusan masalah yang terlalu sempit mungkin tidak memberikan ruang analisis yang cukup. Oleh sebab itu, peneliti perlu menyeimbangkan antara spesifikasi masalah dan kelayakan penelitian.
Contoh Mengubah Research Gap Menjadi Rumusan Masalah
Misalnya seorang mahasiswa ingin meneliti penggunaan kecerdasan buatan dalam pembelajaran. Setelah membaca beberapa penelitian, ditemukan bahwa sebagian penelitian membahas manfaat AI untuk membantu mahasiswa memahami materi, sedangkan penelitian lain menyoroti tantangan dalam penggunaan AI secara bertanggung jawab. Dari sini terdapat ruang untuk mengkaji bagaimana mahasiswa menggunakan AI dan bagaimana penggunaannya berkaitan dengan proses pembelajaran.
Research gap tersebut kemudian dapat dikembangkan menjadi fokus yang lebih spesifik. Peneliti tidak perlu langsung meneliti seluruh aspek AI dalam pendidikan. Peneliti dapat memilih aspek tertentu, seperti pola penggunaan, pengalaman mahasiswa, literasi digital, atau kemampuan berpikir kritis.
Dari fokus tersebut, rumusan masalah dapat disusun berdasarkan pendekatan penelitian. Untuk penelitian kualitatif, pertanyaan dapat diarahkan pada pengalaman mahasiswa dalam menggunakan AI untuk mendukung pembelajaran. Untuk penelitian kuantitatif, pertanyaan dapat diarahkan pada hubungan antara intensitas penggunaan AI dan kemampuan belajar tertentu.
Dengan demikian, proses mengubah research gap menjadi rumusan masalah penelitian bukan sekadar mengganti kalimat menjadi bentuk pertanyaan. Peneliti perlu memastikan bahwa pertanyaan tersebut benar-benar berasal dari kesenjangan yang ditemukan dalam literatur dan dapat dijawab melalui metode penelitian yang sesuai.
Kesalahan yang Perlu Dihindari Saat Menyusun Rumusan Masalah
Membuat rumusan masalah berdasarkan topik semata tanpa menunjukkan research gap. Topik yang sedang populer belum tentu menjadi masalah penelitian. Peneliti tetap perlu menunjukkan apa yang belum diketahui atau belum dijelaskan dari topik tersebut.
Menggunakan pernyataan yang terlalu umum. Rumusan seperti “Bagaimana perkembangan teknologi dalam pendidikan?” memiliki cakupan yang sangat luas. Pertanyaan tersebut akan sulit diarahkan menjadi penelitian yang fokus. Peneliti perlu memperjelas objek, variabel, konteks, atau fenomena yang ingin dikaji.
Peneliti juga perlu menghindari research gap yang dibuat-buat. Tidak ditemukannya penelitian dengan kata kunci tertentu tidak otomatis membuktikan bahwa penelitian tersebut belum pernah dilakukan. Pencarian literatur harus dilakukan dengan beberapa variasi kata kunci dan melalui sumber akademik yang relevan.
Selain itu, rumusan masalah tidak boleh bertentangan dengan metode penelitian. Pertanyaan tentang hubungan antarvariabel membutuhkan rancangan penelitian yang memungkinkan hubungan tersebut dianalisis. Sebaliknya, pertanyaan yang berfokus pada pengalaman atau proses membutuhkan pendekatan yang dapat menggali informasi secara mendalam.
Peneliti perlu memastikan bahwa rumusan masalah selaras dengan tujuan penelitian. Jika rumusan masalah menanyakan pengaruh suatu variabel, tujuan penelitian juga harus mengarah pada pengujian pengaruh tersebut. Keselarasan ini akan membantu menjaga struktur penelitian dari latar belakang hingga kesimpulan.
Baca Juga: Rumusan Masalah Sering Direvisi Dosen dan Cara Memperbaikinya
Kesimpulan
Cara mengubah research gap menjadi rumusan masalah penelitian dimulai dari pemahaman terhadap penelitian terdahulu. Peneliti perlu menemukan bagian yang masih belum terjawab, hasil penelitian yang berbeda, keterbatasan metodologi, atau konteks yang belum banyak dikaji. Research gap tersebut kemudian dipersempit menjadi fokus penelitian yang realistis.
Rumusan masalah berfungsi menerjemahkan research gap menjadi pertanyaan yang dapat dijawab melalui proses penelitian. Karena itu, rumusan masalah harus spesifik, relevan, dapat diteliti, dan sesuai dengan pendekatan penelitian. Semakin jelas hubungan antara gap dan pertanyaan penelitian, semakin kuat pula dasar penelitian yang dibangun.
Bagi mahasiswa yang sedang menyusun proposal atau skripsi, kemampuan mengidentifikasi research gap dan mengubahnya menjadi rumusan masalah merupakan keterampilan penting. Proses tersebut membantu penelitian tidak sekadar mengulang penelitian sebelumnya, tetapi memiliki alasan akademik yang jelas untuk dilakukan. Untuk mendukung berbagai kebutuhan persiapan akademik dan kelulusan, informasi tambahan juga dapat ditemukan melalui Klik Wisuda. Jika kamu membutuhkan bantuan dalam proses revisi, pengecekan tata bahasa akademik, proofreading, atau pendampingan penyusunan skripsi, Hubungi Admin Klik Wisuda

